
”Saya meneruskan usaha Ibu saya sebagai penjual jamu”
Tanggal 6 Januari 2010, di Jogja, setelah mengerjakan pekerjaan dengan computer yang melelahkan, kami bersepakat untuk pergi keluar mencari udara segar. Waktu itu agak mendung. Kemudian kami memutuskan untuk pergi ke Monumen Jogja Kembali.
Aku teringat pada masa kecilku, waktu itu umurku 10 tahun. Aku dan teman-teman sekelasku melakukan study tour ke Jogja salah satunya Monumen Jogja Kembali. Monument yang mentuknya menyerupai tumpeng ini berdiri kokoh dan terlihat masih sama seperti dulu. Kami memasuki pekarangan Monumen. Namun Monumen sudah tutup, ya, karena memang kami kesorean.
Hujan pun turun….kami terpaksa harus berteduh sebentar disana. Setelah hujan sedikit reda, kamipun beranjak untuk melanjutkan perjalanan. Baru sekian ratus meter mengendarai sepeda motor, di jalan Monjali, kami menjumpai beberapa penjual jamu dipinggir jalan. Menggunakan meja kecil dan pendek, dengan beberapa botol air mineral bekas yang sudah diisi berbagai jamu, bahan-bahan jamu yang sudah diparut dari rumah mereka masing-masing. Mendadak hujan kembali lebat!
Akhirnya kami memutuskan untuk mampir disalah satu penjual jamu. Sampailah kita di depan warung jamu milik Bu Nini. Dengan ramah dia mempersilahkan kami berdua untuk duduk. Lalu saya mulai mengamati jamu-jamu yang ada diatas meja itu. Bu Nini bertanya,”Ngersakke jamu punapa Mas?” yang artinya mau minum jamu apa? Lalu saya pun bingung, mau apa ya? Lalu kami memutuskan untuk minum beras kencur dan jamu pegel linu setelah ditawari berbagai jenis jamu yang ada. Dia mengatakan ada jamu pegel linu, sehat pria, galian singset, beras kencur, kunir putih, temulawak, daun papaya, kencur, cabe puyang, kunir, broto wali, dan masih banyak lagi.

Bu Nini mengolah jamunya sejak jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Setelah semua selesai, jam 4 dia mulai buka warung jamunya. Jam 9 biasanya sudah habis. Akupun mulai minum jamu pegel linu, di dalam jamu itu selain ada kencur, kunir dan beberapa ramuan, Bu Nini menambahkan anggur kolesom sebagai penghangat, madu untuk pemanis, dan jeruk sebagai penyegar. Rasanya enak. Saya pun bertanya kepadanya,”Bagaimana Ibu bisa membuat jamu?” dia pun menjawab ”Saya meneruskan usaha Ibu saya sebagai penjual jamu, dulu ibu saya jualan jamu di Pasar Bringharjo. Karena saya sering membantu, akhirnya saya bisa dan coba jualan sendiri.”

Memang, jamu adalah satu bentuk budaya masyrakat Indonesia. Khususnya di Jawa. Ini produk alami, segar dan bermanfaat. Semoga apa yang dilakukan Ibu Nini di Monjali tidak terlibas oleh deru teknologi medis yang sebenarnya lebih beresiko pada efek ketergantungan.
Salam – kumis kucing.





